BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Senin, Agustus 31, 2009

MELATIH LIDAH UNTUK BERPUASA

Melatih Lidah Untuk Berpuasa

Lidah laksana binatang buas yang amat berbahaya, ular berbisa, dan api yang meluap-luap.
Ibnu Abbas ra. pernah berkata kepada lidahnya sendiri,
“Wahai lidah, katakanlah yang baik niscaya engkau akan meraih kebaikan. Atau diamlah, niscaya engkau akan selamat. Semoga Allah merahmati seorang muslim yang menahan lidahnya dari kehinaan, mengikatnya dari gosip, mencegahnya dari ucapan sia-sia, dan menahannya dari kata-kata yang diharamkan.”
Semoga Allah merahmati orang yang berhati-hati dengan segala ucapannya, mengatur lirikan-lirikan matanya, menghaluskan tutur katanya, dan menimbang-nimbang dahulu apa yang akan diucapkan.
Allah swt. berfirman, “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qâf [50] : 18)
Allah swt. juga berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).” (Fushshilat [41] : 46)

Dalam hadits shahih, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang terletak di antara dua rahangnya (lidah), dan apa yang terletak di antara dua pahanya (kemaluan), maka aku akan menjamin untuknya surga.” HR Bukhari dari Sahl bin Sa’ad.

Ketika kaum salafusshaleh dibina dengan binaan Al-Qur`an dan sunnah Rasulullah saw., maka mereka senantiasa menimbang setiap kata yang keluar dari lidahnya, dan selalu memuliakan ucapan-ucapannya.

Kata-kata mereka adalah zikir, pandangan mereka adalah ketepatan, dan diam mereka adalah perenungan.

Ketika orang-orang baik merasa takut menghadapi pertemuan dengan Allah Yang Maha Esa lagi Perkasa, mereka mempergunakan lidahnya untuk zikir dan syukur, serta menahan diri dari ucapan-ucapan hina, kotor dan ejekan.

Ibnu Mas’ud ra. berkata, “Demi Allah, tidak ada satu pun di muka bumi ini yang lebih berhak untuk terus diperhatikan dan dijaga daripada lidah.”

Ketika orang-orang saleh hendak berbicara, mereka senantiasa menimbang-nimbang dampak negatif dari ucapan yang terlontar dari mulutnya. Karenanya, mereka lebih banyak diam.

Bagaimana mungkin orang yang tidak bisa menahan lidahnya bisa berpuasa?

Bagaimana mungkin orang yang lidahnya dipermainkan, atau ucapan dan tutur katanya diperdaya bisa berpuasa?

Bagaimana mungkin orang yang senang berkata dusta, menggunjing orang, banyak mencela dan menghina manusia,

serta lupa akan hari pembalasan bisa berpuasa?

Bagaimana mungkin orang yang memberikan kesaksian palsu dan tidak berdiam diri dalam keburukan-keburukan bisa berpuasa?

Rasulullah saw. bersabda dalam hadits shahih, “Seorang muslim adalah apabila orang-orang Islam lainnya selamat dari perkataan dan perbuatannya.” HR Bukhari Muslim.

Tidaklah Islam itu kecuali berupa amalan nyata, praktik keseharian, titik tolak, ketundukan, perilaku dan kepatuhan.

Allah swt. berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (Al-Isrâ’ [17] : 53)

Maksud “ucapan yang lebih baik” dalam ayat ini, adalah ucapan yang sopan dan indah, yang tidak menyakiti suatu perkumpulan maupun perorangan, tidak menyingkap kehormatan seorang mukmin, tidak pula kemuliaan mereka.

Allah swt. berfirman, “Janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (Al-Hujurât [49] : 12)

Berapa banyak orang yang berpuasa menodai puasanya dengan keburukan lidah, jeleknya tutur kata, dan ucapan-ucapan yang tercela !?

Puasa bukanlah hanya ingin merasakan lapar dan dahaga semata, tapi sebuah pelatihan dan penggemblengan jiwa.

Lidah mempunyai lebih dari sepuluh penyakit, apabila ia tidak diarahkan.

Di antaranya: perkataan dusta, gosip, adu domba, perkataan kasar, mencela, perkataan kotor, kesaksian palsu, kata-kata laknat, cemoohan, merendahkan orang lain, dan lain sebagainya.

Berapa banyak ucapan yang menghantarkan pelakunya ke neraka, karena ia tidak mengontrol lidahnya, dan membiarkan kata-katanya liar.

Lidah merupakan sarana untuk menuju kebaikan, sekaligus sarana menuju keburukan.

Maka, Alangkah damainya orang yang senantiasa berzikir, memohon ampun, memuji, bertasbih, bersyukur, dan bertobat kepada Allah dengan lidahnya.

Dan alangkah malangnya orang yang mengoyak kehormatan manusia, menodai kesucian, serta mendongkel nilai-nilai kebenaran.

Wahai orang-orang yang berpuasa, basahilah lidah-lidah kalian dengan zikir, alirkanlah ia dengan ketakwaan, dan bersihkanlah ia dari kemaksiatan-kemaksiatan.

Ya Allah, kami memohon pada-Mu

agar kami memiliki lidah-lidah yang jujur,

hati yang bersih.

Diposkan oleh Ismajid di 10:08

Label: Lidah

0 komentar: